Minggu, 27 November 2011

asuhan keperawatan pada anak yang TB

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Insidensi Tuberculosis (TBC) dilaporkan meningkat secara drastis pada dekade terakhir ini di seluruh dunia termasuk juga di Indonesia. Penyakit ini biasanya banyak terjadi pada negara berkembang atau yang mempunyai tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah. Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit infeksi penyebab kematian dengan urutan atas atau angka kematian (mortalitas) tinggi, angka kejadian penyakit (morbiditas), diagnosis dan terapi yang cukup lama.

Di Indonesia untuk tingkat dunia penderita penyakit TBC urutan ke-3 setelah Cina dan India. Dibandingkan dengan Provinsi lainnya di Indonesia, Jawa Barat jumlah terbesar penderita penyakit TBC (Tuberkulosis). Data di Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar, tahun 2007 tercatat 30.000 orang penderita TBC, yang sudah datang berobat ke rumah Sakit dan Puskesmas. Kecenderungan sekitar 16 persen penyakit yang berasal dari kuman tersebut menyerang anak-anak, hingga tahun 2008 terus meningkat yakni mencapai 35.000 orang. Tuberculosis paru merupakan suatu gangguan pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri tahan asam. Mycrobacterium yang menyerang paru-paru dan merupakan penyakit yang menular melalui droplet nuclei atau infeksi air ludah sehingga mudah dalam proses penularan dari orang yang satu ke yang lainnya.


A. Batasan Masalah

Adapun batasan masalah yang akan dibahas yaitu :

1. Menjelaskan pengertian Penyakit TB paru pada anak

2. Memaparkan cara penularan Penyakit TB paru pada anak

3. Memaparkan gejala-gejala TB paru pada anak

4. Menjelaskan pencegahan Penyakit TB paru pada anak

5. Menjelaskan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien TB paru pada anak

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan umum

Untuk mendapatkan pengalaman nyata mengenai penerapan asuhan keperawatan pada anak dengan TB paru

2. Tujuan khusus

a. Mampu melakukan pengakajian pada pasien anak TB paru

b. Mampu membuat diagnosa keperawatan pada pasien anak TB paru

c. Mampu membuat perencanaan keperawatan pada pasien anak TB paru

d. Mampu melakukan implementasi keperawatan pada pasien anak TB paru

e. Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada pasien anak TB paru

f. Mampu membuat dokumentasi yang ditujukan untuk institusi Rumah Sakit

C. Manfaat Penulisan

1. Bagi institusi

Untuk meningkatkan mutu pelayanan dan rasa peduli pada pasien

2. Bagi keperawatan

Sebagai sarana mengaplikasikan ilmu keperawatan dilapangan

3. Bagi pendidikan

Untuk pendidikan keperawatan, sehingga mampu memberikan wawasan yang luas bagi mahasiswa dalam asuhan keperawatan

D. Metodologi

Metodologi yang dipakai, yaitu dengan penelusuran kepustakaan dilakukan secara manual dan melalui kepustakaan elektronik dan pendataan langsung dengan cara wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan dokumentasi pada pasien di ruangan

E. Sistematika penulisan

Bab I Pendahuluan terdiri dari : latar belakang, batasan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metodologi, sistematika penulisan

Bab II Tinjauan Teoritis terdiri dari : pengertian, anatomi fisiologi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, tes diagnostik, penatalaksanaan medis, komplikasi, patoflow diagram, konsep asuhan keperawatan

Bab III Pengamatan Kasus terdiri dari : pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan, evaluasi keperawatan dan discharge planning

Bab IV Pembahasan

Bab V Penutup terdiri dari : kesimpulan dan saran


BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR

1. Pengertian

Penyakit tuberkulosis pada bayi dan anak disebut juga tuberkulosis primer dan merupakan suatu penyakit sistemik ( Ngastiyah: 1997). Menurut (Donna L.Wong, dkk: 2009), Tuberculossis (TB) adalah penyakit akibat infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis sistemik sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh, dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer. Sedangkan menurut (Amin, M.,1999), tuberkulosis merupakan penyakit infeksi kronis dengan karakteristik terbentuknya tuberkel granuloma pada paru. Yang biasanya disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang biasanya ditularkan dari orang ke orang melalui nukley droplet melalui udara (Sandra, 2002)

Berdasarkan pengertian para ahli di atas kami menyimpulkan bahwa penyakit tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang menyerang sistem pernafasan dan bisa menyebar ke sistem lain yang diakibatkan oleh kuman mycobacterim tuberculosis

2. Anatomi Fisiologi

Proses metabolisme merupakan karakteristik seluruh sel hidup di dalam tubuh. Proses ini memerlukan suplai O2 yang konstan bagi setiap selnya dan sekaligus mampu membuang produk metaboliknya : misalnya CO2 istilah respirasi tidak hanya di tujukan pada bernapas tetapi juga pada pertukaran gas antara atmosfer darah dan sel tubuh

.

http://ngemper.com/wp-content/uploads/2011/07/lung_anatomy.jpg

Secara umum fungsi saluran pernapasan adalah sebagai berikut :

a. Pertukaran gas dalam proses respirasi seluler

b. Produksi suara atau vokalisasi

c. Membantu dalam kompresi abnormal selama BAK : defeksi dan melahirkan

d. Batuk dan bersin merupakan reson reflex

Secara anatomis sistem pernafasan terbagi 2 bagian yaitu :

1) Area konduksi yang membawa udara ke dan dari alveolus dimana pada bagian ini tidak terjadi pertukaran gas

Area konduksi terdiri dari :

a) Hidung: Meliputi bagian eksternal yang menonjol dari wajah dan bagian internal berupa rongga hidung sebagai alat penyalur udara.

b) Pharynx: Merupakan saluran yang memiliki panjang + 13 cm yang menghubungkan nasal dan rongga mulut kepada larynx pada dasar tengkorak, pharyx ini terbagi menjadi 3 bagian yaitu : Nasopharyx, oropharix dan laryngopharynx.

c) Larynx: Larynx terusun dari 9 kartilago 96 kartilago kecil dan 3 kartilago besar). Larynx terletak pada bagian tengah anterior dari leher pada vertebra cervical 4 sampai 6.

d) Trachea : Merupakan saluran rigid yang memiliki panjang 11-12 cm dengan diameter 2,5 cm. trakhea mengalami percabangan pada carina membentuk bronchus kiri dan kanan terjadi obstruksi, kerusakan atau aspirasi benda asing maka diperlukan tindakan pembedahan (tracheostomy).

e) Bronchus : Bronchus kanan kurang pendek, lebih besar dan memiliki lumen yang besar pada saat masuk ke paru, bronchus terbagi jadi 5 percabangan ; lobus atas, tengah dan bawah pada paru kanan dan lobus atas dan bawah pada paru kiri.

f) Bronchialis: Adalah cabang dari bronchus, bronchiolus mensuplay segmen-segmen broncho pulmonal, dimana cabang bronchiaolus terminal membentuk duktus alveolar yang berhubungan langsung dengan alveolus.

2) Area respirasi yaitu pada alveolus yang merupakan unit fungsional dimana pada area ini terjadi pertukaran gas.

Paru-paru di dalam rongga thorax yang dipisahkan oleh jantung, setiap paru dilapis oleh suatu membran serous yang disebut dengan pleura viceral sementara dinding thorax dilapisi oleh pleura parietale diantara kedua lapisan tersebut terdapat rongga yang berisi cairan surfaktan yang berfungsi untuk mencegah gesekan kedua lapisan pleura saat proses respirasi.

Adanya mycobacterium tuberkulosa ini akan membuat suatu lesi tuberkel yang melekat pada paru maupun pleuranya ukuran lesi ini bisa bermacam-macam ada yang sampai 1-2 cm dan sangat khas, biasanya menyerang bagian apeks paru dan biasanya dapat menyebar ke daerah lobus tengah ataupun bawah tergantung dari keadaan penderitanya.

3. Etiologi

Agen tuberkolosis. Mycobacterium tubercolosis, mycobakterium bovis, mycobakterium africanum. Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan Mycobacterium tubercolosis, mycobakterium bovis. Basil tuberkulosis dapat hidup dan tetap virulen beberapa minggu dalan keadaan kering, tetapi mati di dalam cairan yang bersuhu 60°selama 15-20 menit. Fraksi protein basil tuberkulosis menyebababkan nekrosis jaringan, sedang lemahnya menyebabkan sifat tahan asam dan merupakan faktor penyebab untuk terjadinya fibrosis serta terbentuknya sel epiteloid dan tuberkel. Basil tuberkulosis tidak membentuk toksin.

Penularan tuberkulosis umumnya melalui udara hingga sebagian besar fokus primer tuberkulosis terdapat dalam paru. Selain melalui udara penularan dapat peroral jika meminum susu yang mengandung basil tuberkulosis bovis. Ada mikrobakterium lain yakni mycobakterium atipic yang dapat menyebabkan penyakit menyerupai tuberkulosis.

4. Patofisiologi

Kompleks primer tuberkulosis adalah infeksi lokal pada tempat masuk dan limfonodi regional yang mengalirkan daerah tersebut. Paru-paru adalah tempat masuk pada lebih dari 98% kasus. Basil tuberkel memperbanyak diri pada mulanya dalam alveoli dan duktus alveolaris. Kebanyakan basil terbunuh tetapi beberapa bertahan hidup dalam makrofag yang di nonaktifkan, yang membawanya melalui vasa limfatika ke limfonodi regional. Bila infeksi primer ada di paru-paru limfonodi hilus biasanya dilibatkan, walaupun fokus lobus atas dapat mengalirkannya ke dalam limfonodi paratrakea. Reaksi jaringan dalam parenkim paru-paru dan limfonodi intensif pada 2-12 minggu berikutnya karena terjadi hipersensitivitas jaringan. Bagian parenkim kompleks primer sering menyembuh secara sempurna dengan fibrosis atau klasifikasi sesudah mengalami nekrosis dan membentuk kapsul. Kadang-kadang, bagian ini terus membesar, menimbulkan pneumonitis dan pleuritis setempat. Jika pusat lesi sudah mencair dan mengosongkan bronkus akan meninggalkan rongga sisa (kaverna).

Fokus infeksi di limfonodi regional menjadi fibrosis dan berkapsul, tetapi penyembuhan biasanya kurang sempurna daripada lesi parenkim. M. Tuberculosis yang hidup dapat menetap selama beberapa dekade dalam fokus ini. Pada kebanyakan kasus infeksi tuberkulosis awal limfonodi ukurannya tetap normal. Namun limfonodi hilus dan paratrakea yang sangat membesar sebagai bagian dari reaksi radang hospes dapat melampaui batas daerah bronkus atau bronkiolus regional. Obstruksi farsial bronkus yang disebabkan oleh kompresi eksternal dapat menyebabkan hiperinflasi pada segmen paru sebelah distal. Limponodi yang meradang dapat melekat pada dinding bronkus dan mengerosinya. Sehingga menimbulkan tuberkulosis endobronchial atau saluran fistula. Cesium menyebabkan obstruksi bronkus komplet. Lesi hasilnya kombinasi pneumotitis dan atelektasis, disebut konsolidasi-kolaps atau lesi segmental.

Selama perkembangan kompleks primer, basil tuberkel dibawa ke kebanyakan jaringan tubuh melalui pembuluh darah dan limfe. Penyebaran tuberkulosis terjadi jika jumlah basili yang bersirkulasi besar dan respon hospes tidak adekuat. Lebih sering jumlah basil sedikit, menyebabkan fokus metastasis tidak nampak secara klinis pada beberapa organ. Fokus jauh ini biasanya menjadi berkapsul, tetapi fokus ini mungkin berasal dari tuberkulosis ekstrapulmonal maupun reaktifasi tuberkulosis pada beberapa individu.

Waktu antara infeksi awal dan penyakit yang tampak secara klinis adalah sangat bervariasi. Tuberkulosis tersebar atau meningeal adalah manifestasi awal sering terjadi dalam dua sampai enam bulan infeksi. Tuberkulosis limfonadi atau endobronchial yang bermakna secara klinis biasanya mucul dalam 3-9 bulan. Lesi tulang dan sendi memerlukan beberapa tauhun untuk berkembang sementara lesi ginjal dapat menjadi jelas beberapa dekade sesudah infeksi. Tuberkulosis paru yang terjadi lebih dari setahun sesudah infeksi primer biasanya disebabkan pertumbuhan kembali basili endogen yang menetap pada lesi yang sebagian berkapsul. Reaktifasi tuberkulosis ini jarang pada anak tetapi sering pada remaja dan orang dewasa muda. Bentuk yang paling sering adalah infiltrat atau kaverna di apeks lobus atas, dimana tensi oksigen dan aliran darah besar. Penyebaran selama reaktiiftas tuberkolosis jarang pada hospes berkemampuan imun tetapi lazim pada orang dewasa dengan syndrom defisiensi imun (AIDS). Hanya 5-10% orang dewasa berkemampuan imun yang menjadi terinfeksi dengan M. Tuberkulosis berkembang menjadi penyakit klinis. Namun, sekitar 40% bayi dengan infeksi yang tidak diobati berkembang penyakit dalam 1-2 tahun. Resiko menurun selama masa anak. Sekitar 25-35% anak dengan tuberkulosis berkembang manifestasi ekstrapulmonal dibanding dengan sekitar 10% orang dewasa yang berkemampuan imun.

Individu/anak yang menghirup basil tuberculosis dan menjadi terinfeksi

¤

Bakteri berpindah melalui jalan napas ke alveoli

( Tempat berkumpul dan memperbanyak diri )

¤

Basil juga dipindahkan melalui system limpe danj aliran darah ke bagian tubuh lain

¤

Sistem imun tubuh berespon dengan inflamasi

¤

Fagosit ( Neutrofil dan makrofag ) menelan banyak bakteri ; limfosit spesifik tuberculosis tnelisis dan jaringan normal

¤

Reaksi jaringan ini mangakibatkan penumpukan exudat dalam aveoli

¤

Bronkopneumoni

¤

Daya tahan tubuh menurun, virulensi kuman meningkat

¤

Radang kronis, lesi dikelilingi oleh jaringan kolagen Fibroblast dan limfosit

¤

Bagian tengah lesi akan mengalami nekrosis caseosa yang disebut lesi primer

¤

Lesi primer mengalami pengapuran dan pencairan serta bronkus. Lesi primer mengisi rongga serta jaringan nekrotik yang sudah mencair keluar bersama dengan batuk

¤

Bila lesi sampai menembus pleura : Effuse Pleura Tuberculosa

( Brunner and Suddart, 2002 : 585 )

5. Manifestasi Klinis

Sangat bervariasi, Dapat bersifat asimtomatik atau menimbulkan bermacam-macam gejala :

a. Demam
Demam yang naik turun selama 1-2 minggu dengan atau tanpa batuk dan pilek

b. Malaise

c. Anoreksia

d. Penurunan berat badan

e. Batuk bisa ada atau tidak, berkembang secara perlahan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan

Sejalan dengan perkembangan :

a. Peningkatan frekuensi nafas

b. Ekspansi paru buruk pada tempat yang sakit

c. Bunyi nafas hilang dan ronchi kasar

d. Pekak pada saat perkusi di kedua lapang paru

e. Demam naik-turun

f. Pucat dan anemia

6. Test Diagnostik

Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik termasuk sebagai bagian dari proses pengumpulan data perawat harus waspada terhadap hasil pemeriksaan signifikan yang membutuhkan pelaporan pada dokter dan atau melakukan intervensi keperawatan khusus.

Beberapa pemeriksaan digunakan untuk mendiagnosa penyakit, sementara yang lainnya sangat berguna dalam mengikuti perjalanan penyakit atau penyesuaian terapi pada banyak kasus hubungan antara pemeriksaan fisik dengan patofisiologi penyakit cukup jelas, tetapi pada kasus lain tidak jelas, hal ini merupakan interelasi antara berbagai organ dan sistem tubuh.

Pemeriksaan dignostik pada penderita tuberkulosis antara lain :

a. Uji Tuberkulin merupakan uji paling penting untuk menentukan apakah anak sudah terinfeksi tuberkel basilus atau tidak. Prosedur yang dianjurkan adalah Uji Mantoux, yang menggunakan derifat protein murni (PPD, Purified protein derifatif). Dosis standar adalah 5 unit tuberkulin dalam 0,1 ml larutan, di injeksi secara intradermal. Pembacaan uji tuberkulin dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan dan di ukur diameter melintang dari indurasi yang terjadi. Hasil dianggap positif bila terdapat indurasi dengan 5 mm keatas, bila 4 mm negatif, 5-9 mm masih dianggap meragukan, tetapi jika 10 mm keatas jelas positif.

b. Pemeriksaan Radiologis

Pada anak dengan uji tuberkulin positif dilakukan pemeriksaan radiologis. Secara rutin dilakukan foto rontgen paru, dan untuk diagnosis tidak cukup hanya pemeriksaan radiologis tetapi diperlukan juga data klinis.

c. Pemeriksaan bakteriologis

Ditemukannya basil tuberkulosis akan memastikan diagnosis tuberkulosis. Bahan-bahan yang digunakan untuk pemeriksaan bakteriologis ialah :

1) Bilasan lambung

2) Sekret bronkus

3) Sputum (pada anak yang besar)

4) Cairan pleura

d. Uji BCG

Di Indonesia BCG diberikan secara langsung tanpa didahului uji tuberkulin. Bila ada anak yang mendapat BCG langsung terdapat reaksi lokal yang besar dalam waktu kurang dari 7 hari setelah penyuntikan berarti perlu dicurigai adanya tuberkulosis. Pada anak dengan tuberkulosis BCG akan menimbulkan reaksi lokal yang lebih cepat dan besar oleh karena itu, reaksi BCG dapat dijadikan alat diagnostik.

Vaksin BCG diletakkan pada ruang/tempat bersuhu 200C-80C serta pelindung dari cahaya. Pemberian vaksin BCG biasanya dilakukan secara injeksi intradermal atau intrakutan pada lengan bagian atas atau injeksi perkutan sebagai alternatif bayi usia muda yang mungkin sulit menerima injeksi terdermal. Dosis yang digunakan sebagai berikut :

1) Untuk infant atau anak-anak kurang dari 12 bulan diberikan satu dosis vaksin BCG sebanyak 0,05 mg.

2) Untuk anak-anak di atas 12 bulan dan dewasa diberikan satu dosis vaksin BCG sebanyak 0,1 mg

7. Penatalaksanaan Medis

a. Farmakologi

1) Rifampisin, dengan dosis 10-15 mg/kgBB/hari, diberikan satu kali sehari per oral, diminum dalam keadaan lambung kosong, diberikan selama 6-9 bulan

2) INH (isoniazid), bekerja bakterisidal terhadap basil yang berkembang aktif ekstraseluler dan basil didalam makrofag. Dosis INH 10-20/kgBB/hari per oral, lama pemberian 18-24 bulan

3) Pirazinamid, bekerja bakterisidal terhadap basil intraseluler, dosis 30-35 mg/kgBB/hari per oral, 2 kali sehari selama 4-6 bulan.

4) Etambutol, dosis 20 mg/kgBB/hari dalam keadaan lambung kosong, 1 kali sehari selama 1 tahun.

5) Kortikosteroid, diberikan bersama-sama dengan obat antituberkulosis yang masih sensitif, diberikan dalam bentuk kortison dengan dosis 10-15 mg/kgBB/hari. Kortikosteroid di berikan sebagai antiflogistik dan ajuvan pada tuberkulosis milier, meningitis serosa tuberkulosa, pleuritis tuberkulosa, penyebaran bronkogen, atelektasis, tuberkulosis berat atau keadaan umum yang buruk.

b. Non farmakologi

1) Memberikan posisi ektensi ( kepala lebih tinggi dari badan )

2) Melakukan postural drainase

3) Melakukan suction untuk mengeluarkan dahak

4) pemberian nutrisi yang adekuat, untuk menjaga daya tahan tubuh klien agar tidak terjadi penyebaran infeksi ke organ tubuh yang lainnya

5) memantau kepatuhan ibu dalam memberikan obat kepada anaknya

8. Komplikasi

a. Penyakit paru primer pogresif

Komplikasi infeksi tuberkulosis serius tetapi jarang terjadi pada anak bila fokus primer membesar dengan mantap dan terjadi pusat perkejuan yang besar. Pencarian dapat menyebabkan pembentukan kaverna primer yang disertai dengan sejumlah besar basili. Pembesaran fokus dapat melepaskan debris nekrotik kedalam bronkus yang berdekatan, menyebabkan penyebaran intrapulmonal lebih lanjut.

b. Efusi pleura

Efusi pleura tuberkulosis yang dapat lokal dan menyeluruh, mula-mula keluarnya basili kedalam sela pleura dari fokus paru sub pleura atau limfonodi.

c. Perikarditis

Perikarditis biasanya berasal dari infasi langsung atau aliran limfe dari limponodi subkranial.

d. Meningitis

Meningitis tuberkulosa mengkomplikasi sekitar 0,3% infeksi primer yang tidak diobati pada anak. Kadang-kadang meningitis tuberkulosa dapat terjadi beberapa tahun setelah infeksi primer, bila robekan satu atau lebih tuberkel subependimal menegeluarkan basil tuberkel kedalam ruang subarakhnoid.

e. Tuberkulosis Tulang

Infeksi tulang dan sendi yang merupakan komplikasi tuberkulosis cenderung menyerang vetebra. Manifestasi klasik spondilitis tuberculosa berkembang menjadi penyakit Pott, dimana penghancuran corpus vertebra menyebabkan gibbus dan kifosis. Tuberkulosis skeletona adalah komplikasi tuberkulosis lambat dan menjadi perwujudan yang jarang sejak terapi antituberkulosis tersedia.


9. Patoflowdiagram

Masuk ke kelenjar limfe

Penurunan daya tahan tubuh menurun

RESTI PENYEBARAN INFEKSI

Infeksi primer

Merangsang sel monosit, eosinofil, netrofil dan makrofag untuk mengeluarkan zat patogen endogen

Infeksi pada kelenjar limfe

Reaksi peradangan

Disampaikan ke hipotalamus bagian thermoregulator melalui ductus thoracicus

Terjadi eksudasi di kelenjar limfe

Peningkatan suhu tubuh

Pembesaran kelenjar limfe

Demam

HYPERTERMI

Gangguan keseimbangan membran sel neuron

Difusi Na dan Ca berlebih

Depolarisasi membrane dan lepas muatan listrik berlebih

Kejang

Kesadaran menurun

RESIKO INJURY

GANGGUAN RASA NYAMAN

Pemasangan Infus

Plebitis

Ibu bertanya mengenai tindakan, kondisi, dan proses penyakit

Morbili

Ibu menangis, khawatir, dan cemas pada kondisi dan tindakan yang dilakukan pada anak

Kurang informasi

KURANG PENGETAHUAN MENGENAI KONDISI, PENGOBATAN DAN PROSES PENYAKIT

Batuk-batuk

sesak

BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF

Peningkatan asam lambung

Muntah

GANGGUAN NUTRISI

Pemasangan OGT

Pemasangan Oksigen

Makrofag bertambah

Gangguan system imun

Infiltrasi sel tuberkel epiteloit

Mengalami konsolidasi dan eksudasi

Penumpukan sputum

Pneumonia akut

Penurunan nafsu makan

bronchopneumonia

Mikobakterium tuberkulosis

Inhalasi droplet

Saluran pernapasan

alveolus

Leukosit memakrofag bakteri tapi tidak membunuh m.tuberkulosis

Bakteri berkembang



B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN

a. IDENTITAS DATA

Identitas Data Umum (selain identitas klien: nama tempat tanggal lahir, usia, agama, jenis kelamin, juga identitas orangtua; nama orangtua, pendidikan, dan pekerjaan)

b. DIAGNOSA MEDIS :

TB Paru

c. RIWAYAT KEPERAWATAN SEKARANG

Keluhan Utama

1) Saat masuk Rumah Sakit

Keluhan Utama (penyebab klien sampai dibawa ke rumah sakit).

2) Saat pengkajian

Keluhan utama : Keluhan yang dialami pasien saat dilakukan pengkajian meliputi PQRST (palliative, quantitatif, region, scale, timing)

3) Keluhan penyerta

Keluhan yang dialami oleh pasien selain keluhan utama. Tanda dan gejala klinis TB serta terdapat benjolan/bisul pada tempat-tempat kelenjar seperti: leher, inguinal, axilla dan sub mandibula

d. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KESEHATAN

1) Pre Natal

Prenatal : (kurang asupan nutrisi , terserang penyakit infeksi selama hamil)

2) Intra Natal

Intranatal : Bayi terlalu lama di jalan lahir , terjepit jalan lahir, bayi menderita caput sesadonium, bayi menderita cepal hematom

3) Post Natal:

kurang asupan nutrisi , bayi menderita penyakit infeksi , asfiksia icterus

e. RIWAYAT MASA LALU

1) Penyakit waktu kecil

Penyakit yang pernah diderita (tanyakan, apakah klien pernah sakit batuk yang lama dan benjolan bisul pada leher serta tempat kelenjar yang lainnya dan sudah diberi pengobatan antibiotik tidak sembuh-sembuh? Tanyakan, apakah pernah berobat tapi tidak sembuh? Apakah pernah berobat tapi tidak teratur?)

2) Pernah di rawat di Rumah Sakit

Tanyakan apakah sakit yang dialami di waktu kecil sampai membuat pasien dirawat dirumah sakit, jika ia, apakah keadaannya parah atau seperti apa.

3) Obat-obatan yang pernah digunakan

Obat-obatan yang pernah diberikan sangat penting untuk diketahui, agar kerja obat serta efek samping yang timbul dapat di ketahui. Pemberian antibiotik dalam jangka panjang perlu di identifikasi

4) Tindakan (operasi)

Apakah sebelumnya pernah melakukan tindakan operasi, pada bagian apa, atas indikasi apa

5) Alergi

Apakah mempunyai riwayat alergi terhadap obat-obatan, udara atau makanan

6) Kecelakaan

Pernah mengalami kecelakaan ringan sampai hebat sebelumnya, apabila mengalami kecelakaan apakah langsung di beri tindakan, atau di bawa berobat ke dokter atau hanya di diamkan saja

7) Imunisasi

a) Imunisasi aktif : merupakan imunisasi yang dilakukan dengan cara menyuntikkan antigen ke dalam tubuh sehingga tubuh anak sendiri yang akan membuat zat antibody yang akan bertahan bertahun-tahun lamanya. Imunisasi aktif ini akan lebih bertahan lama daripada imunisasi pasif

b) Imunisasi pasif : disini tubuh tidak membuat sendiri zat anti akan tetapi tubuh mendapatkannya dari luar dengan cara penyuntikkan bahan atau serum yang telah mengandung zat anti. Atau anak tersebut mendapatkannya dari ibu pada saat dalam kandungan

1) Vaksin polio

2) Vaksin campak

3) Vaksin BCG ( Bacillus Calmet Guirnet )

4) Vaksin DPT ( Difetri Pertusis Tetanus )

5) Vaksin toxoid difetri

f. KEBUTUHAN DASAR (11 Pola Fungsi Gordon)

1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan

Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.

Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.

2) Pola nutrisi metabolic

Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.

Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak subkutan

3) Pola eliminasi

Perubahan karakteristik feses dan urine, nyeri tekan pada kuadran kanan atas dan hepatomegali, nyeri tekan pada kuadran kiri atas dan splenomegali.

4) Pola tidur dan istirahat

Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.

Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.

5) Pola aktivitas dan latihan

Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas pendek), sulit tidur, demam, menggigil, berkeringat pada malam hari

Objektif : Tachicardi, tachipneu/dispneu saat kerja, irritable, sesak (tahap, lanjut; infiltrasi radang sampai setengah paru), demam subfebris (40 -410C) hilang timbul

Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada

Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di daerah apeks paru, tachipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural), deviasi trakeal (penyebaran broncogenik).

6) Pola persepsi kognitif

Subjektif : Perasaan isolasi/penolakan karena penyakit menular

Objektif : Perubahan pola biasa dalam tahap/perubahan kapasitas fisik

7) Pola persepsi dan konsep diri

Subjektif : Faktor stres lama, proses hospitalisasi yang mengakibatkan masalah pada anak

Objektif : ansietas, ketakutan, berontak, rewel dan menangis terus-menerus.

8) Pola peran hubungan dengan sesama

a. Yang mengasuh anak

Hubungan keluarga dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Siapa yang lebih intensif dan secara konstan menekankan perkembangan, pertumbuhan si anak dapat mempengaruhi perilaku, sikap dan pengontrolan emosi serta perkembangan anak

b. Hubungan dengan anggota keluarga

Keluarga diharapkan untuk dapat lebih menekankan perkembangan individu setiap anaknya, kemudian orangtua akan lebih intensif dan secara konstan menekankan harapan keluarga terhadap anaknya

c. Hubungan dengan teman sebaya

Terciptanya hubungan yang hangat dengan teman sebayanya akan berpengaruh besar terhadap perkembangan emosi, sosial dan intelektual anak

d. Lingkungan rumah

Lingkungan tempat tinggal (Lingkungan kurang sehat (polusi, limbah), pemukiman yang padat, ventilasi rumah yang kurang, jumlah anggota keluarga yang banyak), pola sosialisasi anak.

e)Kondisi rumah, bagaimana kondisi rumah, apakah dalam satu keluarga ada yang menderita TB paru.

f)Merasa dikucilkan, kaji perasaan pasien atau keluarga pasien atas penyakit yang diderita.

g)Aspek psikososial (Tidak dapat berkomunikasi dengan bebas, menarik diri).

h)Berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak.

i)Tidak bersemangat dan putus harapan karena merasa tidak akan sembuh dan terbatas ekonomi

9) Pola koping dan toleransi terhadap stres

Subjektif : Faktor stres lama, proses hospitalisasi yang mengakibatkan masalah pada anak

Objektif : ansietas, ketakutan, berontak, rewel dan menangis terus-menerus.

10) Pola reproduksi dan seksualitas

Anak biasanya dekat dengan ibu daripada ayah.

11) Pola nilai dan kepercayaan

Pada anak biasanya belum begitu paham, tapi bagi orang tua biasnya akan menyerahkan pada Tuhan dan selalu berdoa untuk kesembuhan keluarganya

g. PEMERIKSAAN FISIK

1) Keadaan umum : pada umumnya pasien tuberkulosis anak yang berobat sering ditemukan sudah dalam keadaan lemah, pucat, kurus dan tidak bergairah

2) Tanda-tanda vital : sering demam walaupun tidak terlalu tinggi, demam dapat lama atau naik turun, nafas cepat dan pendek, saat badan demam atau panas biasanya tekanan nadi anak menjadi tachicardi

3) Antropometri

Mengukur lingkar kepala, lengan, dada dan panjang badan serta berat badan.

4) Pemeriksaan fisik

a. Kepala : kaji bentuk kepala, kebersihan rambut

b. Mata : kaji bentuk mata, konjungtiva, sklera, pupil

c. Hidung : terdapat cuping hidung atau tidak, ada penumpukkan sekret atau tidak, simetris tidak.

d. Mulut : kaji kebersihan mulut, apakah ada stomatitis, gigi yang tumbuh

e. Telinga : kaji kebersihan telinga, bentuk sejajar dengan mata, ada cairan atau tidak, uji pendengaran anak

f. Leher : Benjolan/pembesaran kelenjar pada leher (servikal), axilla, inguinal dan sub mandibula.

g. Dada : Batuk: terjadi karena adanya iritasi pada bronkus; batuk ini membuang/ mengeluarkan produksi radang, dimulai dari batuk kering sampai batuk purulen (menghasilkan sputum).

Sesak nafas: terjadi bila sudah lanjut, dimana infiltrasi radang sampai setengah paru.

Nyeri dada: ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura.

Malaise: ditemukan berupa anoreksia, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri otot dan kering diwaktu malam hari.

Pada tahap dini sulit diketahui.

Ronchi basah, kasar dan nyaring.

Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberi suara limforik.

Atropi dan retraksi interkostal pada keadaan lanjut dan fibrosis.

Bila mengenai pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan suara pekak)

h. Perut : kaji bentuk perut, bising usus

i. Ekstermitas : kaji kekuatan ekstermitas atas dan bawah, apakah ada kelemahan

j. Kulit : Pembesaran kelenjar biasanya multipel.

Benjolan/pembesaran kelenjar pada leher (servikal), axilla,

inguinal dan sub mandibula. Kadang terjadi abses.

k. Genetalia : kaji apakah ada disfungsi pada alat genitalia, kaji bentuk, skrotum sudah turun atau belum, apakah lubang ureter ditengah

h. PEMERIKSAAN TINGKAT PERKEMBANGAN untuk anak usia < 6 tahun

Motorik kasar : sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain

Motorik halus : sudah bisa memegangi cangkir, memasukkan jari ke lubang, membuka kotak, melempar benda

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

NO Dx

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.

Bersihan jalan nafas tidak efektif

2.

Hypertermi

3.

Gangguan nutrisi

4.

Resti penyebaran infeksi

5.

Kurang pengetahuan mengenai kondisi, pengobatan dan proses penyakit

3. INTERVENSI KEPERAWATAN

NO DX

TUJUAN & KRITERIA HASIL

INTERVENSI KEPERAWATAN

1

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan jalan nafas kembali efektif dalam waktu 3x24 jam. Dengan kriteria hasil:

Sekret berkurang sampai dengan hilang, pernafasan dalam batas normal 40-60x/menit

a. Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas, kecepatan, kedalaman dan penggunaan otot aksesori.

R: untuk mengetahui tingkat sakit dan tindakan apa yang harus dilakukan

b. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.

R: untuk mengetahui perkembangan kesehatan pasien

c. Berikan pasien posisi semi atau fowler, R: semi fowler memudahkan pasien untuk bernafas

d. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, suction bila perlu.

R: untuk mencegah penyebaran infeksi

e. Lembabkan udara/oksigen. Berikan obat: agen mukolitik, bronkodilator, kortikosteroid sesuai indikasi

R: pemberian oksigen dapat memudahkan pasien untuk bernafas

2

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien tidak demam dalam waktu 3x24 jam.

Dengan kriteria hasil : tidak terjadi penyebaran infeksi

a. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif, menyebarnya infeksi melalui bronkhus pada jaringan sekitarnya atau melalui aliran darah atau sistem limfe dan potensial infeksi melalui batuk, bersin, tertawa, ciuman atau menyanyi.

R : Membantu klien agar klien mau mengerti dan menerima terhadap terapi yang diberikan untuk mencegah komplikasi.

b. Mengidentifikasi orang-orang yang beresiko untuk terjadinya infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan. Memberitahukan kepada mereka untuk mempersiapkan diri untuk mendapatkan terapi pencegahan.

R : Pengetahuan dan terapi dapat meminimalkan kerentanan terjadinya penyebaran

c. Anjurkan klien menampung dahaknya jika batuk

R : Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi.

d. Gunakan masker setiap melakukan tindakan

R : Masker dapat mengurangi resiko penyebaran infeksi

e. Monitor temperature

R : untuk mengetahui adanya indikasi terjadinya infeksi. Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi.

f. Kolaborasi Pemberian terapi untuk anak

R : Kerja sama akan mempercepat proses penyembuhan

g. Monitor sputum BTA. Klien dengan 3 kali pemeriksaan BTA negatif, terapi diteruskan sampai batas waktu yang ditentukan.

R : Pemantauan untuk terapi yang akan dilaksanakan selanjutnya

3

Tujuan :

Kriteria hasil:Keluarga klien dapat menjelaskan penyebab gangguan nutrisi yang dialami klien, pemulihan kebutuhan nutrisi, susunan menu dan pengolahan makanan sehat seimbang. Dengan bantuan perawat, keluarga klien dapat mendemonstrasikan pemberian diet (per sonde/per oral) sesuai program dietetik.

f. Mengukur dan mencatat BB pasein

R : BB menggambarkan status gizi pasien

g. Menyajikan makanan dalam porsi kecil tapi sering

R : Sebagai masukan makanan sedikit-sedikit dan mencegah muntah

h. Menyajikan makanan yang dapat menimbulkan selera makan

R : Sebagai alternatif meningkatkan nafsu makan pasien

i. Memberikan makanan tinggi TKTP (tinggi kalori tinggi protein)

R : Protein mempengaruhi tekanan osmotik pembuluh darah

j. Memberi motivasi kepada pasien agar mau makan.

R : Alternatif lain meningkatkan motivasi pasein untuk makan

k. Lakukan perawatan oral sebelum dan sesudah terapi respirasi

R : Mengurangi rasa yang tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan untuk pengobatan yang dapat merangsang vomiting.

l. Jelaskan kepada keluarga tentang penyebab malnutrisi, kebutuhan nutrisi pemulihan, susunan menu dan pengolahan makanan sehat seimbang, tunjukkan contoh jenis sumber makanan ekonomis sesuai status sosial ekonomi klien.

R : Meningkatkan pemahaman keluarga tentang penyebab dan kebutuhan nutrisi untuk pemulihan klien sehingga dapat meneruskan upaya terapi diet yang telah diberikan selama hospitalisasi.

m. Tunjukkan cara pemberian makanan per sonde, beri kesempatan keluarga untuk melakukannya sendiri.

R : Meningkatkan partisipasi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi klien, mempertegas peran keluarga dalam upaya pemulihan status nutrisi klien.

n. Laksanakan pemberian roborans sesuai program terapi.

R : Roborans, meningkatkan nafsu makan, proses absorbsi dan memenuhi defisit yang menyertai keadaan malnutrisi.

o. Timbang berat badan, ukur lingkar lengan atas dan tebal lipatan kulit setiap pagi.

R : Menilai perkembangan masalah klien.

p. Memberi makan lewat parenteral ( D 5% )

R : Mengganti zat-zat makanan secara cepat melalui parenteral

4

Tujuan: Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan.

Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup untuk memperbaiki kesehatan umur dan menurunkan resiko pengaktifan ulang tuberkulosis paru.

Mengidentifikasi gejala yang memerlukan evaluasi/intervensi.

Menerima perawatan kesehatan adekuat.

a. Kaji kemampuan belajar pasien misalnya: tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat pengetahuan, media, orang dipercaya.

R: untuk mengetahui kondisi pasien dan tindakan apa yang akan diberikan

b. Tekankan pentingnya asupan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dan intake cairan yang adekuat.

R: agar pemenuhan nutrisi terpenuhi sehingga penyembuhan bisa lebih cepat

c. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum obat.

R: agar keluarga pasien tidak memberikan obat dan waktu yang keliru

d. jelaskan penatalaksanaan obat: dosis, frekuensi, tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain.

R: agar keluarga pasien tidak memberikan obat dan waktu yang keliru

e. jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah

R: agar keluarga pasien mengetahui sehingga bisa melaporkan jika hal tersebut terjadi

5

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan pengetahuan ibu dan keluarga pasien bertambah dalam waktu 1x24 jam dengan kriteria hasil ibu dan keluarga pasien paham tentang penyakit anaknya dan cemas teratasi

1. kaji tingkat pengetahuan keluarga

R: untuk mengetahui tingkat pengetahuan keluarga pasien sampai mana

2. berikan pendidikan kesehatan berkaitan dengan penyakit pasien

R: agar keluarga pasien mengetahui dan tidak cemas

3. jelaskan setiap tindakan keperawatan yang akan dilakukan

R: untuk mengurangi kecemasan keluraga pasien

4. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien.

5. EVALUASI KEPERAWATAN

Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum. Bila perlu langkah evaluasi ini merupakan langkah awal dari identifikasi dan analisa masalah selanjutnya.

6. DISCHARGE PLANNING

a. Jelaskan pada keluarga pasien tentang penyakit tersebut dan tekankan pentingnya terus meminum obat selama waktu yang telah ditentukan.

b. Jelaskan efek samping terapi obat dan beritahu pasein untuk segera melapor jika mengalami hal-hal tersebut.

c. Jelaskan gejala gejala kekambuhan (batuk terus menerus, demam, atau hemaptomisis). Anjurkan keluarga pasien untuk segera melapor jika terjadi hal-hal tersebut.

d. Anjurkan keluarga pasien untuk mengantar pasien agar datang sesuai jadwal yang ditentukan untuk pemeriksaan bakteriologi sputum untuk memantau respon terapeutik dan kepatuhan.

e. Jenganjurkan keluarga pasien untuk memberikan makanan TKTP (Tinggi kalore Tinggi Protein) seperti: telur, tahu, tempe, ikan, kacang-kacangan.

f. Jenjelaskan pada keluarga untuk memperhatikan kebersihan dan proses dalam memasak( harus matang)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar